Tentang Ade Solihat

Saya lahir sebagai anak bungsu dari sebelas bersaudara putra-putri dari Bapak H.Muhammad Soleh Djibdjapura, yang berdarah Sunda dan ibu Hj. Habibah, berdarah Betawi. Tanah kelahiran saya di Serpong, masuk ke dalam Provinsi Banten. Namun, saya dibesarkan dalam tradisi budaya Sunda, yang menurut Wikipedia, dikenal dengan budaya yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat Sunda adalah periang, ramah-tamah (soméah, seperti dalam falsafah soméah hadé ka sémah, yang artinya ramah baik kepada tamu), murah senyum, lemah-lembut, dan sangat menghormati orang tua.  Meskipun, saya sering melarang mahasiswa mengutip Wikipedia, tapi untuk karakter orang Sunda yang ditulis Wikipedia ini sangat tepat menggambarkan saya.

Menjadi anak kesebelas, dengan perbedaan jarak dua tahun dengan kakak saya yang kesepuluh dan seterusnya hingga anak pertama, tentunya bisa dikatakan saya bukanlah anak yang benar-benar diharapkan lahir ke dunia. Memang demikian yang pernah Bunda Habibah ceritakan kepada saya. Masa mengandung saya, Ibunda sudah berusia 36 tahun dan berada dalam kondisi kesehatan yang tidak terlalu baik. Seorang Dokter Belanda yang sedang praktik kerja di sebuah klinik di Serpong menyarankan Ibunda Habibah yang sudah melahirkan 10 orang anak, 4 laki-laki dan 6 perempuan, diminta untuk membatalkan kehamilannya atau dengan kata lain menggugurkan kandungannya. Obat-obatan untuk aborsi diberikan kepada Ibunda Habibah, namun janin yang dikandungnya terus bertahan hingga usia kandungan 36 minggu. Qodarullah, usaha dokter Belanda itu ternyata tidak mampu menghalangi kelahiran seorang bayi perempuan, pada hari Rabu, 4 April 1973.  Saya lahir dengan selamat, sehat wal afiyat, tanpa kurang sesuatu apapun. Alhamdulillah, Allahu Akbar.

Saya menikah dengan seorang berketurunan Batak dan Jawa, Diaz Alexander Hasibuan pada 1998, dan dikarunia 3 orang putra-putri: Deniz Ayatullah Hasibuan (21), Dawam Rasyid Hasibuan (18), dan Dara Saliha Hasibuan (14).  Ah, betapa multikulturalnya keluarga kami. Namun amat disayangkan, anak-anak kami tidak ada yang menguasai salah satu dari bahasa: Sunda, Jawa, atau pun Batak. Kami berbahasa Indonesia di rumah.