Kematian sebagai Peristiwa Pulang yang Menggembirakan

Catatan Tausiyah Prof. Komaruddin Hidayat pada acara Mengenang 3 hari wafatnya Almarhumah Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi binti R. Roosseno Soerjohadikoesoemo, Selasa 15 Juni 2021 via Zoom.[1]

Oleh: Ade Solihat

Tausiyah singkat dan bernas disampaikan oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (15/06/2021; 19:40—19.58 WIB)

Prof. Komarudiin Hidayat, memulai tausiyahnya dengan menyampaikan bahwa wafat atau kematian telah banyak didiskusikan di dunia filsafat. Namun dalam kesempatan mengenang wafatnya Prof. Dr. Toety Heraty, kata ‘wafat’ ini dibahas dalam pandangan Islam.  Meskipun peristiwa ‘wafat’ atau ‘kematian’ merupakan peristiwa duka bagi keluarga yang ditinggalkan, namun sebenarnya tidak demikian bagi yang memahaminya dari sumber Al-Quran.

Beberapa istilah yang dikenal yaitu: ‘mati’, ‘wafat’, dan ‘ajal’ berasal dari bahasa Arab. Kata mati berarti berpisahnya ruh dari jasad atau badan.  Seseorang yang mati sebenarnya selesainya fungsi jasadnya. Namun ruhnya tetap hidup dan kembali kepada Sang Pemilik, yaitu Tuhan.  

Kata ‘wafat’ dalam bahasa Arab memiliki arti ‘panen’. Seseorang yang wafat sebenarnya akan mengalami masa panen, jika semasa hidupnya banyak berbuat kebaikan. Seluruh kebaikan dalam kehidupan akan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Demikian juga seseorang yang banyak melakukan keburukan akan mendapatkan keburukan setelah kematiannya.

Prof. Dr.Toety Heraty bagi banyak orang yang pernah mengenalnya penuh dengan kebaikan. Dalam perjalanan hidupnya beliau penuh dengan kegiatan menanam kebaikan, sehingga Insya Allah, wafatnya almarhumah adalah masa panennya atas banyak kebaikan yang telah ditanamnya. 

Adapun ‘ajal’ berarti batas waktu. Ajal merupakan batas waktu kehidupan manusia. Kematian atau ajal menjadi batas akhir kehidupan, namun, bukan akhir dari segalanya. Kematian hanyalah salah satu episode saja dalam perjalanan seorang manusia. Setelah menemui ajalnya, ada episode berikutnya yang akan dialami oleh manusia.

Demikian juga rajiun, dari kalimat yang sering diucapkan ketika mendengar seseorang wafat: “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’, yang artinya berpulang atau ‘kembali’ memiliki makna positif. Seorang anak selalu merindukan kembali kepada ibunya, karena ia pernah berada di rahim ibunya. Demikian juga seorang anak manusia akan bergembira ketika kembali kepada Tuhannya yang mengasihinya.

Oleh karena itulah, seseorang yang meninggal, di dalam Islam disebut almarhum atau almarhumah (untuk perempuan), yang berarti yang dikasihi atau yang dirahmati.  Jadi, sebenarnya suatu kematian atau peristiwa wafat merupakan peristiwa menggembirakan bagi seseorang yang meyakininya dalam Islam. Wafat, mati, ajal, atau meninggal dunia merupakan satu episode perjalanan pulang manusia untuk kembali kepada Tuhan dan mendapatkan panen (balasan) dari perbuatan kebaikannya selama di dunia dalam kasih sayang-Nya.

Tahlil dipimpin oleh Ustadz; Latar belakang Lukisan Prof. Dr. Toety Heraty Noerhady (15/06/2021)

[1]Almarhumah Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi adalah Guru besar UI dan penulis senior Indonesia;  meninggal dunia pada 13 Juni 2021, pada usia 87 tahun.

0
0
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like