Kisah Sunyi Kebudayaan Islam di Kaukasus

Depok, 9 April 2021 – Sebuah webinar bertajuk “Kisah Sunyi Kebudayaan Islam di Kaukasus” diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Asia Barat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, pada Jumat malam, 9 April 2021 pukul 20.00—22.00 WIB.  Judul webinar ini mengundang tanya dari Dekan FIB UI, Bapak Dr. Adrianus L. G. Waworuntu, S.S., M.A. dalam sambutannya. Selanjutnya makna “Kisah Sunyi Kebudayaan Islam di Kaukasus, dijelaskan oleh pembicara utama webinar ini, yaitu Prof. Dr. Husnan Bey Fananie, M.A., Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Azerbaijan periode 2016—2020.

Prof. Husnan menjelaskan bahwa judul ini berangkat dari geliat kehidupan masyarakat Muslim di Azerbaijan yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, termasuk juga masyarakat Indonesia. Negara yang terletak di Lembah Kaukasus ini lebih dikenal sebagai salah satu pecahan Uni Sovyet. Sebagai pecahan Uni Sovyet pastilah pengaruh komunis mengakar di Azerbaijan. Namun ternyata identitas yang dimunculkan oleh masyarakat Azerbaijan adalah identitas Muslim. Dengan persentase Muslim di Azerbaijan mencapai 95% dari kurang lebih 10 juta penduduknya, Azerbaijan menjadi negara dengan mayoritas Muslim.

Sebenarnya identitas Muslim bukanlah identitas yang baru di Azerbaijan. Wilayah ini mendapat pengaruh Islam sejak abad pertama Hijriyah (atau abad ke-7 Masehi). Tokoh yang membawa Islam ke Azerbaijan adalah sahabat Nabi Muhammad bernama Sa’ad bin Abi Waqqas. Dalam perkembangannya peradaban Islam di Azerbaijan turut mewarnai kegemilangan Islam pada periode Kekhalifahan Umayyah (661-750 M) yang berpusat di Damaskus dan periode Abasiyyah (750—1258 M) yang berpusat di Irak. Azerbaijan menyimpan nama besar penyair sufi Nizami Ganjavi. Salah satu karya sastranya berjudul “Layla wa Majnun” (bahasa Arab: لیلی و مجنون) sangat dikenal oleh masyarakat dunia.

Bukan hanya menyimpan jejak peradaban Islam, wilayah Azerbaijan juga menyimpan kisah-kisah kehidupan manusia yang tertulis pada kitab-kitab: Al-Quran, Injil, dan Taurat, seperti kisah Nabi Nuh alaihis salam. Pegunungan Kaukasus memiliki ujung yang terputus dan membentuk sebuah palung. Palung ini tergenang air, yang diyakini terjadi pada masa Nabi Nuh a.s. dan kemudian menjadi sebuah danau (yang kemudian dikenal dengan sebutan Laut Caspia). Wilayah tempat Nabi Nuh membuat kapal besar untuk menyelamatkan diri dan kaumnya dari bencana banjir besar, dipercaya berada di Naxcivan (dibaca: Nakhchewan), sebuah kota yang berada di Azerbaijan. Pada tahun 2018, Kota Naxcivan ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.

Lebih ke belakang lagi, bahkan Azerbaijan juga diakui sebagai wilayah tempat lahirnya peradaban manusia tertua, yaitu peradaban api yang sudah muncul kira-kira abad ke-7 Sebelum Masehi. Hingga saat ini, di Baku, Ibu kota Azerbaijan masih berdiri kokoh Kuil Api Baku (The Baku Ateshgah), tempat sembahyang para penganut Zoroaster (penyembah Dewa Api), yang merupakan jejak nyata peradaban kuno tersebut.

Wilayah Azerbaijan yang terletak di persimpangan Eropa dan Asia Barat Daya ini pernah menjadi bagian dari wilayah Imperium Romawi, Persia, Dinasti Sirvani, dan Dinasti Turki Osmani. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pada masa kini Azerbaijan memperkenalkan diri sebagai negara terkaya di dunia dalam hal tinggalan atau jejak peradaban dunia.

Setelah selama 170 tahun berada di bawah Kekaisaran Rusia dan 70 tahun menjadi bagian dari Uni Sovyet, pada Agustus 1991, Azerbaijan memproklamirkan kemerdekaannya. Pascakemerdekaan, generasi muda Azerbaijan mulai menggali kembali akar kebudayaan mereka. Menguak masa sebelum 70 tahun itu, terdapat lapisan kebudayaan Islam. Lapisan Islam inilah yang kini sedang digali kembali oleh masyarakat Azerbaijan.

Dalam sesi tanya jawab, saya mempertanyakan, “bagaimana karakter kebudayaan Islam di Azerbaijan, mengingat letak geografis dan pengalaman sejarahnya dipengaruhi oleh Dinasti Islam Persia yang bercorak Syiah dan Dinasti Islam Turki yang bercorak Suni.

Prof. Husnan menjelaskan, tidak mudah menjelaskan lebih dekat ke mana corak Islam di Azerbaijan, karena memang Islam baru kembali dipelajari dan dipraktikkan oleh masyarakat dan generasi muda Azerbaijan. Banyak masyarakat yang sudah tidak mengenal ajaran Islam, meskipun mereka mengaku Muslim.

“Selama kurang lebih 70 tahun, bahkan lebih jauh dari masa itu, masyarakat Azerbaijan tidak mengenal agamanya, karena memang ekspresi beragama dan ritual dilarang. Jadi, wajar saja, meskipun mengaku Muslim, banyak orang Azerbaijan belum mengerjakan salat, misalnya. Itu karena memang mereka tidak tahu. Islam bagi mereka masih seputar kebudayaan dan identitas,” demikian penjelasan Prof. Husnan.

Dalam kesempatannya bertugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Republik Azerbaijan, Prof. Husnan banyak melakukan kunjungan ke kampus-kampus untuk menjelaskan peran sejarah Azerbaijan dalam bangunan sejarah peradaban Islam. Atas aktivitasnya mensosialisasikan pengetahuan sejarah kebudayaan Azerbaijan kepada generasi milenial, Prof, Husnan memperoleh gelar Guru Besar Kehormatan di Azerbaijan University of Languages.

“Anak muda di sana sangat sekuler. Jika saya berbicara soal agama, saya akan ditinggalkan. Namun, jika saya membahas nasionalisme, misalnya dengan menyebut tokoh-tokoh seperti Yahya Al Baqi, para penulis kutubussitah, yang mereka kenal sebagai tokoh nasional, sebenarnya, kan mereka itu adalah ulama, tokoh Islam. Harus ada strategi dalam membangkitkan kembali kebanggaan mereka terhadap Islam. Sejarah peradaban Azerbaijan yang sedemikian semaraknya seolah “sunyi” karena seakan belum pernah didengar oleh para pemuda Azerbaijan sendiri. Oleh karena itulah, webinar ini tepat diberi judul “Kisah Sunyi Kebudayaan Islam di Kaukasus,” demikian Prof. Husnan menutup penjelasannya yang sebenarnya masih sangat panjang. Namun waktu jualah yang mengharuskan webinar ini usai tepat pada pukul 22.00 WIB.

Peserta Webinar mencapai jumlah 95
Acara dihantarkan dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris oleh 2 MC mahasiswa Prodi Arab FIB UI

Karya sastra dari Azerbaijan yang mendunia

0
0
1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like